oleh

Dugaan Pungli Di SMK N 1 Gorontalo, Ini Penjelasan Wakasek

LINTAS PERISTIWA (LIGO) – Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 (SMKN 1) Kota Gorontalo di duga lakukan pungutan kepada siswanya yang terlambat datang ke Sekolah. Hal ini terungkap setelah Orang Tua Siswa mem-posting tindakan itu ke Media Sosial Facebook. Senin (12/11).

“Tolong untuk kepada Pemerintah setempat atau kepada Pak Walikota, sehubungan dengan kejadian yang ada di Sekolah SMKN 1 Gorontalo (SMEA Kota) banyak Siswa tidak bisa masuk karena harus membayar uang sebesar 5 Ribu Rupiah. Kalau tidak ada, tidak bisa masuk. Bahkan ada yang sudah memohon karena uang yang Siswa pegang sudah tinggal 3 Ribu Rupiah, bahkan ada yang sudah tidak punya uang terpaksa pulang. Jadi saya mohon kepada Pemerintah setempat masalah ini harus ditindak lanjuti sebelum masalah ini menjadi besar,” tulis Akun Facebook Adrianto Ali, yang tidak lain adalah Orang Tua Siswa.

Terkait dugaan pungutan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Joko Sukamto, S.Sos membantah dan mengatakan pihaknya tidak melakukan tindakan pungutan 5 Ribu Rupiah kepada Siswa yang terlambat.

“Itu sebenarya tidak benar. Masalah keterlambatan dan kedispilinan di Sekolah ini tetap kita terapkan, supaya menjaga stabilitas pembelajaran. Kepada yang terlambat itu tentunya ada Pembinaan Khusus dan Pemberian Sanksi berupa membersihkan lingkungan Sekolah yang kotor, terus ada juga yang diharuskan membaca  Al-Quran,” ungkap Wakasek Bidang Kesiswaan.

Ia juga membantah “tidak ada siswa yang dipulangkan” sebagaimana yang dituliskan dalam Akun Sosial Media Facebook.

Dia juga menegaskan, pihaknya tidak  memberlakukan pungutan uang 5 Ribu Rupiah sebagai bentuk efek jera bagi siswa yang terlambat.

Sementara, di saat bersamaan orang tua siswa yang menulis dugaan pungutan yang dilakukan  SMKN 1 Kota Gorontalo di akun-nya, bertemu langsung Wakil Kepala Sekolah dan lakukan klarifikasi atas hal itu.

Setelah bertemu Wakil Kepala Sekolah, Surianto Ali mengklarifikasi tudingan yang ia tuliskan di akun Facebook-nya, dan menyampaikan hal ini terjadi karena kesalahpahaman.

“Saya sudah konfirmasi, ternyata ini salah paham. Yang  saya maksudkan dengan tulisan itu bukan mengarah Kepada Sekolah keseluruhan tapi kepada oknum seseorang” ungkap Surianto Ali.

Joko Sukamto, Wakasek Bidang Kesiswaaan SMK Negeri 1 Gorontalo

Surianto juga menambahkan, dirinya memahami dengan tindakan Sekolah yang memberikan sanksi bagi siswanya yang datang terlambat sebagai bentuk efek jera.

“Anak saya itu kan terlambat, dan berada dibarisan belakang. Ada yang menyampaikan harus membayar uang 5 ribu baru bisa masuk. Memang kejadiannya seperti itu, tapi itu sebagai bentuk efek jera,” terang Surianto.

Sementara itu, salah seorang siswa yang tidak ingin disebutkan identitasnya karena takut dimarahi pihak Sekolah, membenarkan adanya tindakan pungutan yang menjadi viral di  media Facebook.

“Benar ada pungutan itu. Baru hari ini aturan membayar 5000 rupiah itu diterapkan bagi siswa yang terlambat,” kata Siswa yang identitasnya tak ingin disebutkan.

Sementara hal yang berbeda disampaikan Siswa lainnya, mereka mengatakan setiap hari Siswa diminta untuk menyumbang untuk perbaikan Masjid Sekolah.

“Pungutan itu tidak benar, memang setiap hari kita dimintakan untuk menyumbang, termasuk bagi yang terlambat. Namun tidak ada paksaan berapa yang harus dibayar. Uang itu juga kan untuk memperbaiki Masjid Sekolah,” terang Siswa lainnya.

Laporan: Najid Lasale
Editor: Arlan

Komentar

Berikan Komentar Anda