oleh

Ide Besar Yusran Lapananda Atasi Dilema “Pariwisata Perbatasan” 

LINTAS BONEBOL (LIGO) – Kabupaten Gorontalo merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki banyak Destinasi Wisata dan Potensi Pariwisata Baru yang telah banyak dikenal tidak hanya di tingkat Regional melainkan juga dikenal oleh Wisatawan Mancanegara (Wisman).

Namun sayang, potensi ini belum sepenuhnya memberikan konstribusi terhadap Pendapatan Daerah, padahal besarnya Anggaran yang dikucurkan untuk Promosi Pariwisata jumlahnya tidak sedikit, sebaliknya Pemasukan dari Sektor Pariwisata tidak sebanding Anggaran Promosi. Kamis (01/08).

Antara Pendapatan Daerah dari Sektor Pariwisata yang tidak sebanding dengan Anggaran Promosi-nya ini membuat Yusran Lapananda setelah dilantik menjadi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo 22 Januari 2019 lalu itu risau. Mantan Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Gorontalo ini mengatakan seharusnya antara keduanya berbanding lurus atau bahkan Pendapatan melebihi Anggaran Promosi Pariwisata.

Disamping itu kata Yusran, salah satu penyebab pendapatan Sektor Pariwisata Kabupaten Gorontalo belum maksimal, lantaran menurutnya Kabupaten Gorontalo adalah daerah “PARIWISATA PERBATASAN”.

“Dilema Pariwisata Perbatasan itu adalah, Kita Kabupaten Gorontalo adalah Daerah Pariwisata Perbatasan, berbeda dengan Pohuwato berbeda dengan Boalemo. Kita berbatasan dengan Kota Gorontalo. Kenapa demikian, karena kebanyakan yang datang berkunjung ke Kabupaten Gorontalo menikmati Destinasi Kita itu, lebih banyak tinggal di Hotel Kota Gorontalo, dia makan di Kota. Jadi Efek Pariwisata Kita lebih banyak dinikmati oleh Kota Gorontalo,” kata Yusran.

Karena itu pihaknya mencoba menjawab tantangan Kabupaten Gorontalo sebagai Daerah Pariwisata Perbatasan ini dengan cara melibatkan masyarakat untuk turut aktif mempromosikan Pariwisata Kabupaten Gorontalo. Sementara solusi yang dihadirkannya menjawab tidak adanya Hotel Berbintang di Kabupaten Boalemo adalah dengan mendorong masyarakat dan Pemandu Wisata membuat Home Stay. Solusi ini memang sangat efektif, sebab banyak Wisatawan Mancanegara khususnya, lebih senang tinggal di Home Stay dan menikmati suasana pemukiman masyarakat yang mereka tidak dapatkan di Negaranya.

Hal lain kata Yusran yang harus dilakukan untuk membangun Pariwisata Kabupaten Gorontalo adalah mengubah Pola Pikir, perbedaan antara Parisiwata dan Keramaian. 15 Februari 2019 lalu kepada Lintas Gorontalo, Yusran mengatakan antara Pariwisata dan Keramaian itu berbeda.

Antara Pariwisata dan Keramaian itu berbeda. Saya lihat kegiatan Kepariwisataan Daerah itu hanya menuju pada Keramaian. Bicara Pariwisata atau Destinasi Wisata adalah orang berkunjung ke suatu Daerah untuk beberapa hari. Berbeda dengan Keramaian, orang cukup datang lihat dan pulang,” ujar Yusran.

Untuk mengubah Pola Pikir dan Solusi-Solusi yang ia hadirkan dalam Pengembangan Pariwisata Kabupaten Gorontalo, Yusran dengan hobinya yang suka Menulis itu akan me-Launching Buku Kepariwisataan yang ia beri judul “Esai-Esai Kepariwisataan Mobopibi”.

Dijelaskan Yusran, Mopibibi adalah Slogan Pembangunan Pariwisata yang artinya adalah “Memamerkan” Slogan ini diambil dari sebutan Memamerkan dalam Bahasa Gorontalo. Mopibibi adalah akronimi sesuatu objek yang masih menjadi pembicaraan dan bahkan tidak bisa dipungkiri ada yang mengktirik hingga menolak Slogan ini.

“Sesungguhnya Slogan Mopobibi adalah konsep yang sangat ringan dan sederhana yang tidak seharusnya dibahas dan diulas menjadi sesuatu yang sulit untuk dipahami dan diterima oleh akal sehat,” jelas Yusran.

Alasan memlih Slogan Mopobibi ini juga akan dijelaskan Yusran dalam Buku yang akan di-Launching-nya itu. Selain Slogan Mopobibi, Yusran memberikan sedikit gambaran soal Buku Esai-Esai Mopobibi.

“Disitu akan banyak Solusi yang Saya hadirkan bagaimana seharusnya Dinas Pariwisata mengembangkan Potensi yang ada di zaman yang dikenal sebagai Zaman Revolusi Industri 4.0., nanti tunggu saja,” tukas Yusran. (B01)

Editor: Syahrir

Komentar

Berikan Komentar Anda

Baca Juga Ini