oleh

In Memoriam Atje Slamet… Kota Tua… Kotaku…

Gorontalo : Masa Lampau dan Masa Depan

Penulis: Nurhadi Taha

Sejarah panjang Kota Gorontalo menyimpan sejuta Kenangan nan juga memori jejak langkah pemimpin yang arif bijaksana serta teladan tak banyak kita temukan hari ini. Seolah kita saat ini berada dalam satu problem besar yaitu sebuah krisis Kepemimpinan juga Keteladanan dalam setiap hiruk-pikuk perjalanan suasana batin dan detak jantung kita.

Adat Istiadat masih menjadi satu rujukan Kaum Muda saat itu, Perempuan malu bila tidak menutup aurat mereka memakai sarung “Bele” Uto’o saat keluar rumah, begitupun para Lelaki mereka memakai songkok “Upiah” sebagai petanda konsisten dalam kemajemukan dan keberagamaan. Semangat kegotoroyongan masih menjadi simbol persatuan masyarakatnya. Mereka belajar tak secanggih hari ini mengunakan Grip dalam bahasa belanda, Gerepu sebagai kapur Tulis dan papannya dgn mengunakan Batu Lei, zaman yang serba sulit tetapi semangat hidup dan masyarakatnya bahagia.

Saat itu zkotaku di sebut Kota Praja, Kotanya Para Raja ada banyak sejarah yang menyebutkan Gorontalo adalah Kota yang mempunyai wilayah peradaban yang meliputi Sulteng hingga Bolaang Mongondow walau mempunyai wilayah yang luas tetapi Raja Gorontalo di era itu mengetahui seluruh aktivitas warganya hingga mereka yang belum makanpun di ketahui oleh para raja dan masyarakatnya pun kian religius hingga dijuluki Kota Serambi Madinah. Kini Kota ini selalu menjadi tumpuan dan simbol Gorontalo masa lalu dan masa kini juga sumbu masa depan warganya

Dalam historinya Pemimpin Kota pada era tahun 1961 hingga 1963 di pimpin Oleh Atje Slamet. Pelantikan pemimpin yang sederhana tak ada lencana juga ucapan karangan bunga dan hidangan makanan prasmanan semuanya sederhana tetapi mereka hikmat dan berjalan dengan kemeriahan serta berlangsung suka cita. Para pemimpinnya di ambil sumpah bukan dengan sumpah kesetiaan tetapi dengan Kalimat Tauhid dan hingga ucapan-ucapan ketauhidan, yang Prosesinya tak memakan waktu yang berjam-jam.

Tetapi saat itu pemimpinnya tak terlilit kasus Korupsi, juga tak ada Anggaran Alokasi Khusus dari Negara, tetapi pembangunan kian berjalan. Bahkan berbagai Bangunan berdiri kokoh atas usaha insiatif rakyat. Tak ada teknologi yang cangih tetapi komunikasi rakyat dan pemimpin tak ada jarak dan batasan. mereka pemimpin saat itu bekerja dengan ikhlas bahkan rela waktu dan tenaganya mengurus rakyatnya.

Sungguh Era dan Zaman saat itu bila kita persepsikan pada saat ini sangat jauh berbeda dengan situasi kekinian mulai dari Krisis Ekonomi, Moral, Budaya hingga pada suasananya pun berbeda.

Ada banyak isu dan berbagai problem yang kita hadapi mulai dari kesenjangan sosial, kemiskinan busung lapar , hingga Korupsi dan kasus-kasus lainnya yang terus menjadi opini yang terus menggejala sepertinya kita telah kehilangan jejak jejak Para pejuang dan perintis para tokoh teladan kita.

Bila kita menghitung usianya dari tahun kelahirannya 1728 maka usia Kota ini sudah berumur 290 tahun sungguh usia yang tua tentu harapannya menjadi Kota yang telah dewasa telah banyak melewati masa krisisnya juga zaman keemasannya hingga membuat warganya dewasa juga Pemimpinnnya.

Ada banyak cercahan air mata yang berguguran, keringat yang telah menetes serta suara yang tersedu-sedu kita hidup bukan untuk kita juga bukan untuk keluarga bahkan anak cucu tetapi kita hidup buat mereka yang menaruh harapan dan cita-citanya untuk kegemilangan Gorontalo di masa lalu dan masa depan.

Wahai…. Pemimpinku… Rakyatmu adalah mereka Putra dan Putrimu walaupun mereka keliru janganlah kau siksa kau hardik bahkan mengkhianatinya.

Komentar

Berikan Komentar Anda

Baca Juga Ini