oleh

Jejak Peradaban Di Gorontalo

LINTAS BUDAYA (LIGO) – Provinsi Gorontalo merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki Jejak Peradaban Pra-Sejarah dan Jejak Kolonial. Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari akan Jejak Peninggalan tersebut. Padahal menurut kepala Balai Arkeologi Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, Wuri Handoko Jejak Peradaban memiliki peran penting dalam konteks Pembangunan Nasional.

“Karena banyak masyarakat yang belum memahami, tentang apa peran penting Tata Arkeologi dan Cagar Budaya dalam konteks Pembangunan Nasional, sementara Kita menggerakkan Kebudayaan itu sebagai Modal Sosial Pembangunan,” tutur  Wuri Handoko saat menggelar Pameran Arkeolog dan Cagar Budaya yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Gorontalo.

Pameran Arkeolog Dan Cagar Budaya tersebut akan dilangsungkan selama dua hari sejak 27 hingga 28 Juni 2019, di Rumah Adat Poboide, Limboto.

Di Gorontalo sendiri kata Wuri Handoko, Balai Arkeologi berhasil mengungkap sejumlah Peninggalan Pemerintahan Kolonial.

“Ada Benteng Mas, Benteng Otanaha dan Benteng Orange,” ungkap Wuri.

Berdasarkan Hasil Penelitian yang dilakukan, Peninggalan Kolonial tersebut membuktikan bahwa Pemerintah Kolonial menganggap Gorontalo sebagai Daerah Penting. Bisa jadi Gorontalo adalah Daerah Basis Pertahanan dan Pusat Pemerintahan.

Sebagai Pusat Pertahanan dan Pemerintahan, dirinya melihat Pemerintah Kolonial memiliki alasan yang sangat krusial yang harus diamankan di wilayah ini. Yaitu terkait potensi yang dimiliki Gorontalo.

“Potensi Sumber Daya Alamnya, sebagi Khas Negara untuk Modal Pemerintah Kolonial melakukan Pembangunan, dan juga Gorontalo merupakan wilayah strategis untuk diambil kekayaannya,” ungkap Wuri.

Selain potensi itu, Wuri Handoko juga menjelaskan Jejak Kolonial tersebut merupakan jejak yang menandakan adanya Persaingan Perdagangan. Sehingga Gorontalo dipilih karena sebagai Wilayah Strategis Perdagangan.

“Masa Pemerintahan Kolonial itu kan juga masih berlangsung adanya Kerajaan-Kerajaan. Penguasaan wilayah ini oleh Kolonial bisa karena ada Persaingan Perdagangan, Perebutan Kekuasaan terjadi karena sebagai Wilayah Strategis,” terangnya.

Jejak peradaban Kolonial, Benteng Orange Di Gorontalo Utara

Selain Jejak Kolonial, di Desa Oluhuta, Kabupaten Bone Bolango, Balai Arkeologi menemukan Rangka Manusia dan Artefak Orang Oluhuta. Hasil Identing menunjukkan sekitar 600-700 Tahun yang lalu. Namun dari Hasil Bukti Artefaknya di situs Oluhuta, membuktikan adanya Perkembangan Kebudayaan 4000 tahun yang lalu.

“Itu bisa dimaknai sebagai Masa Megalitik itu Orang mulai mengenal Cocok Tanam, dengan ditemukannya Kapak-Kapak dan juga ada ciri Kebudayaan Maritim yang kuat saat itu dengan ditemukannya Bukti Peninggalan Alat Ikan, Pemberat dari Tanah Liat yang digunakan untuk Menangkap Ikan,” terangnya lagi.

Dari Hasil Temuan tersebut dirinya menyimpulkan adanya Kebudayaan Maritim dan Agraris yang terintegrasi di Komunitas Orang Oluhuta.

“Mereka menangkap Ikan, tapi masih mempertahankan Budaya Cocok Tanamnya,” imbuhnya.

Wuri Handoko juga mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan kesulitan untuk mengungkap Jejak-Jejak Sejarah Peradaban Pra-Sejarah dan Kolonial di Gorontalo karena minimnya Bukti Fisik Arkeologinya. Sebab banyak sejarah di Gorontalo hanya sebatas tutur namun tidak ada bukti fisiknya.

Laporan: Najid Lasale
Editor: Syahrir

Komentar

Berikan Komentar Anda

Baca Juga Ini