oleh

Mesjid Hunto Dan Sejarah Islam Di Gorontalo

LINTAS RAMADHAN (LIGO) – Gorontalo tak hanya memiliki beragam Adat dan Budaya yang khas namun juga memiliki Situs Sejarah yang begitu terkenal dan fenomenal. Salah satu Situs Tertua dan Fenomenal tersebut yakni Masjid Hunto yang berada di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Provinsi Gorontalo.

Berdasarkan sejarah, Masjid Hunto ini selain menjadi Masjid pertama yang dibangun  pada Abad ke 15, Selain menjadi simbol masuknya Islam ke Gorontalo namun juga menyimpan kisah keromantisan seorang Raja Amay yang hendak meminang Putri Pakiyawu Tango yang merupakan anak dari Raja Palasa yang memerintah di Moutong.

“Masjid yang pertama dibangun ini, masjid Hunto namanya. Disebut Hunto karena merupakan pusat  atau basis, nah Beliau yang membangun ini adalah Raja Amay pada tahun 1495. Ketika Raja Amay memerintah itu Dia memertintahkan semua Hulubalang harus mengikutinya selaku Raja.

Memang ada hubungan dengan mahar. Justru masjid ini yang menjadi mahar. Karena waktu Beliau meminang Putri Pakiyawu Tango itu syaratnya 2 . Pertama bangunkan sebuah Masjid, kedua Raja Amay harus masuk Islam bersama semua kaula/masyarakat”tutur  Sejarawan H. Samsudin Kaluku pada Lintasgorontalo.com pada Rabu (08/05).

Dari pernikahan Raja Amay dan Putri Pakiyawu Tango ini juga lahirlah seorang anak yang diberi nama Matodulakiki. Raja Amay pada jamannya begitu berani dan tegas sehingga menjadi Pahlawan yang Mengislamkan Gorontalo. Kerena keberaniannya dalam melakukan perubahan dari Kepercayaan Animisme menjadi Islam meninggalkan Agama Leluhur.

Raja Amay begitu bijaksana, hal ini terbukti dengan dilaksanakannya pemotongan babi untuk terkahir kalinya serta meninggalkan kebiasaan-kebiasaaan buruk oleh masyarakatnya dan kemudian di kumpulkan didepan Masjid dan disumpahkan untuk tidak melanggar hal tersebut.

Situs Bersejarah Cagar Budaya Masjid Hunto.

“Jadi kebijaksanaan Raja Amay waktu itu bagaimana meninggalkan kebiasaan-kebiasaan itu masyarakat disumpah, jadi diambil babi dipotong lalu darahnya di Bontho dengan ucapan ‘Bolo Yingo-yingondhilo Monga Boyi’ yang berarti hanya tinggal hari itu makan babi dan meninggalkan maksiat,”ujar Samsudin Kaluku menceritakan Sejarah Keislaman di Gorontalo.

Ritual  itu sebagai pertanda masyarakat Gorontalo kala itu sudah memeluk Agama Islam, dan mengucapkan Syahadat secara masal.

Semua rakyat dikumpulkan didepan Masjid dan bersumpah dan jika melanggar sumpah bisa jadi muka monyet. Kalau melanggar sumpah kena kutukan/Bito. Kata  Samsudin.

Hingga saat ini yang menjadi peninggalan tertua yang berada di Masjid Hunto ini yakni Mimbar Tertua , kemudian Mihrab, Beduk Tua, Sumur Tua, Pohon Alumbango Tertua yang menjadi tempat mengikat perahu Raja. Dulu diarea Masjid Hunto tersebut merupakan muara sungai dan lama-lama jadi daratan. Mimbar itu ada sejak Masjid ini dibangun. Makamnya Raja Amay ada ditempat tersebut.

Sehingganya Masjid Hunto tersebut menjadi Cagar Budaya yang harsu selalu dijaga dan dipelihara oleh masyarakat sebagai Warisan Budaya secara turun temurun.

“Ini Situs Budaya merupakan Cagar Budaya dan tidak bisa dirombak, dihilangkankan atau diganti denggan bangunan lain  jadi ini jadi Warisan untuk generasi mendatang”pungkas H. Samsudin Kaluku.

Setelah Masjid  Hunto dibangun Abad ke-15 barula Abad ke-16, Masjid di Gorontalo mulai banyak di bangun hinga saat ini jumlahnya yang mencapai ribuan.

Laporan : Mirna Ahaya
Editor : Syahrir

Komentar

Berikan Komentar Anda