oleh

Resiko Kanker Akibat Penggunaan Telepon Selular, Ini Perdebatan 2 Lembaga Riset  AS

LINTAS INTERNASIONAL (LIGO) – Keamanan radiasi telepon seluler terhadap kesehatan manusia kini tengah menjadi perdebatan dua lembaga Pemerintah AS yang memiliki tafsiran berlawanan mengenai studi tentang keamanan radiasi telepon selular.

Dari VoaIndonesia, Jum’at (02/11) disampaikan satu lembaga mengatakan radiasi telepon selular menyebabkan kanker pada tikus percobaan. Yang lainnya mengatakan tidak alasan bagi orang-orang untuk merasa khawatir.

Berdasarkan hasil temuan riset yang baru yang dirilis pada hari Kamis. Sebaliknya, program yang disebut sebagai National Toxicology Program menunjukkan kekhawatirannya yang lebih besar tentang kaitannya dengan penyakit jantung dan kanker otak sebagai hasil studi dari tikus jantan yang dipublikasikan musim dingin yang lalu.

Namun the Food and Drug Administration, yang mengawasi keselamatan telepon selular, tidak sepakat dengan peringatan yang dikeluarkan tersebut.

“semua temuan ini tidak semestinya dikaitkan dengan penggunaan telepon selular oleh manusia,” ujar Dr. Jeffrey Shuren, ketua kesehatan radiologi pada FDA.

Hal yang serupa juga diungkapkan Dr. Otis Brawley, petugas medis utama pada American Cancer Society yang mengatakan apa yang terpenting adalah apa yang terjadi pada manusia, bukan pada tikus.

“Insiden mengenai tumur otak pada manusia tidak mengalami peningkatan dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, Ini adalah fakta ilmiah yang terpenting.” ujar Brawley dikutip dari VoaIndonesia.

Perdebatan ini tidak berlangsung secara singkat, bahkan untuk membuktikan kebenaran melalui studi yang memakan biaya $30 juta, para ilmuwan melakukan uji coba dengan meletakkan tikus dan mencit dalam bilik-bilik khusus dan membombardirnya dengan gelombang frekuensi radio, seperti yang dipancarkan oleh telepon-telepon lama yang beroperasi pada jaringan 2G dan 3G, selama 9 jam per hari hingga jangka waktu 2 tahun, hampir sepanjang angka kehidupan mereka.

Hasilnya Tingkat paparan yang dialami oleh hewan-hewan pengerat ini jauh lebih tinggi dari paparan yang umumnya dialami oleh manusia.

Sementara pada hasi penelitian bulan Februari lalu, National Toxicology Program menyatakan ada sedikit peningkatan dalam jenis tumor jantung yang tidak biasa pada tikus-tikus jantan, yang tidak ditemukan dalam mencit atau tikus-tikus betina.

Lembaga itu juga menyimpulkan ada “bukti tertentu” mengenai kaitannya. Selain itu, laporan yang dirilis bulan Februari juga menyatakan adanya “bukti multitafsir” tentang tumor otak pada tikus-tikus jantan.

VoaIndonesia juga melaporkan, pada Kamis badan ini meningkatkan penjelasannya terkait dengan temuan-temuan tersebut. Tumor jantung meningkatkan “bukti nyata” dari kanker pada tikus-tikus jantan umumnya. Ada “beberapa bukti tertentu” mengenai kanker otak.

Perubahan tersebut muncul setelah badan tersebut meminta para pakar dari luar lembaga tersebut untuk menganalisa temuan-temuan yang ada.

“Kami yakin kaitan antara radiasi frekuensi radio dan tumor pada tikus-tikus jantan nyata adanya, dan para pakar dari luar lembaga tersebut juga setuju,” ujar John Bucher, ilmuwan toksikologi senior dari lembaga tersebut.

Meskipun lembaganya menyatakan bahwa risiko-risiko yang ada pada tikus tidak berlaku secara langsung pada manusia, namun hasil studi tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang faktor keselamatan.

Foto yang diambil tanggal 11 Oktober 2012 menampilkan silhouette seorang pejalan kaki yang berbicara lewat telepon selular di depan sebuah air mancur di Philadelphia (foto: AP Photo/Matt Rourke/voaindonesia.com)

Lembaga FDA langsung menyatakan ketidaksepakatannya, dengan mengeluarkan press rilis yang menjamin warga Amerika bahwa “puluhan tahun dari penelitian dan ratusan studi” telah membuat lembaga kesehatan tersebut yakin bahwa batas-batas keselamatan yang ada saat ini untuk radiasi telepon selular mampu untuk melindungi kesehatan publik.

Selain itu, FDA juga merujuk pada temuan-temuan yang membingungkan dari studi pada hewan-hewan pengerat tersebut – bahwa tikus yang terpapar radiasi hidup lebih lama dibandingkan dengan tikus pembanding yang tidak terpapar radiasi. Lembaga toksikologi tersebut menyatakan tampaknya energi frekuensi radio membantu ginjal-ginjal tikus yang lebih tua.

Perdebatan kedua lembaga ini soal kezelamatam radiasi telepon seluler menurut profesor bidang kesehatan publik di George Washington University, George Gray ada alasan mengapa dua lembaga pemerintah yang berbeda tersebut terlibat dalam ketidaksepakatan.

“mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berbeda,” ujar Gray.

Gray juga mengatakan program toksikologi menguji bagaimana radiasi telepon selular mempengaruhi hewan-hewan tersebut. Dengan mengamati apa artinya bagi manusia, FDA

“mengandalkan pada lebih banyak sumber informasi dan data dibandingkan uji-uji pada tikus dan mencit yang dilakukan baru-baru ini,” ujarnya lewat email,melalui Laporan VoaIndonesia.

Jadi seberapa amankah telepon selular?

“Saya menghubungi anda lewat telepon selular,” ujar Brawley.

Ia merujuk pada satu risiko terkenal yang terkait dengan penggunaan telepon selular: Kecelakaan mobil saat perhatian pengemudi teralihkan oleh telepon selular.

Sedangkan terkait kanker, apabila orang merasa khawatir, mereka dapat menggunakan earphone atau pengeras suara, ujarnya.

Mereka yang mempelajari risiko yang ada tidak akan menghentikan penggunaan telepon selular.

“Keluarga saya dan saya sendiri tidak akan mengubah kebiasaan penggunaan telepon selular kami akibata adanya kabar ini,” ujar Gray, sebagai salah satu buku berjudul “Risk: A Practical Guide for Deciding What’s Really Safe and What’s Really Dangerous in the World Around You.

Laporan: VoAIndonesia/ww/Najid Lasale
Editor: Syahrir

Komentar

Berikan Komentar Anda